Karena membaca adalah candu dan menulis adalah rindu.

Sabtu, 10 Maret 2018

Sajak Kerinduan

Puisi ini diikut sertakan dalam produk LPM Manunggal Undip

Rindu
Oleh: Isna Farhatina

Aku serupa malam. Seiring redup berubah temaram
Sunyi. Sendiri. Berteman sepi

Maaf, Tuan. Aku masih menjadikanmu inti dari segala tulisan
Pun setelah kita berjauhan
Sebab aku sangat tergila-gila pada aksara
Hanya dengan ini aku bisa melampiaskannya

Ada sesuatu yang berdesir didadaku. Mungkin tentang kita yang lama tak bersua
Kamu berhasil menanam rindu, Tuan. Mencipta jarak juga memupuk jeda
Semuanya tumbuh subur
Tak ada sedikitpun yang kabur
Tentang semua hal-hal bahagia yang pernah kita lakukan juga masih selalu
Ku rapal dalam ingatanku

Kini aku kesakitan menanti pertemuan
Padahal jelas nyatanya kamu tak akan pernah kembali, lagi.
Apakah akan jadi hal sia-sia?
Entah sampai aku melabuhkan lelah tiada menentu arah

Hening…
Disini aku menikmati tiap tikaman belati kerinduan
Yang kamu hunuskann dengan tajam. Sangat dalam.
Luka hati mungkin saja bisa sembuh. Namun rasa rinduku selalu meminta kambuh.

Share:

Jumat, 09 Maret 2018

Wati Wanita


Tantangan Nulis Kilat yang diberikan oleh @storialc
Menjadi wanita yang hidup tidak lagi di era Kartini memiliki tantangan tersendiri. Wati merasakan dampak betapa besarnya perjuangan Kartini agar wanita mendapat hak yang sama dalam segala aspek kehidupan kini banyak profesi yang melibatkan wanita didalamnya. Dalam perjalanan peradaban umat manusia, budaya patriarki tetap mendominasi. Tetapi ia tak ambil pusing. Sejak masih belia ia diajarkan orangtuanya untuk mandiri. Bayangkan saja, ketika masih duduk dibangku TK saja ia sudah disuruh membawa kunci rumah. Mana ada anak TK zaman sekarang yang seperti dirinya? Waktu terus bergulir begitu cepat. Tidak terasa seperempat abad sudah Wati menjalani hidupnya, asam garam kehidupan sudah ia rasakan. Hal inilah yang mendorong dirinya menjadi wanita yang pemberani karena tuntutan persaingan global.
Kecintaannya terhadap dunia literasi membawa jalan takdirnya untuk menjadi seorang wartawati disebuah stasiun TV terkenal di Nusantara. Ayahnya menanamkan budaya One Day One Book pada dirinya agar menjadi wanita yang cerdas. Ibunya juga seorang pegiat literasi di kota tempat tinggalnya. Wati mewarisi sifat kedua orangtuanya yang gemar membaca. Ia memilih menjadi seorang wartawati karena selain profesi tersebut mengandung unsur namanya, karena ia menyukai pekerjaan yang berisiko tinggi namun tetap santai.
Selain berprofesi sebagai seorang wartawati, ia juga pandai berbisnis. Keahlian ini diwariskan oleh Kakeknya yang seorang juragan batik. Wati mulai berkiprah dalam dunia bisnis ketika menginjak awal SMA. Segala upaya ia lakukan untuk menambah uang jajannya agar tidak selalu mengandalkan pemberian orangtuanya. Untung saja Ayah dan Ibunya mendukung niat baik putrinya asalkan tidak mengganggu belajarnya. Penanaman moral yang baik dari kedua orangtuanya membawa Wati menjadi seorang wanita yang benar-benar mandiri. Wati paham betul bahwa ada beberapa hal didunia ini bersifat kodrati yang memang hanya dapat dilakukan oleh wanita saja atau laki-laki saja. Pekerjaan sepele seperti memasang gas, membetulkan rantai kendaraan juga berkendaraan sendirian biasa ia lakukan.
Sebagai seorang wartawati ia biasa mengawal aksi demonstrasi yang terjadi. Panas terik dengan keringat bercucuran menjadi temannya sehari-hari. Ia juga tidak takut berhadapan dengan massa yang membabi buta ketika menyampaikan aspirasinya didepan gedung-gedung pemerintahan. Baku hantam yang tak terelakkan dengan aksi pembakaran ban juga ia nikmati begitu saja justru terkadang rekannya yang sebagai kameramen merasa takut jika terkena dampak dari aksi para demnonstran.
Berkat keberaniannya meliput berbagai aksi demonstrasi, kini ia menjadi seorang news anchor di stasiun TV yang sama tempatnya bekerja sewaktu menjadi wartawati. Ketika membawakan program acara yang mendatangkan tokoh-tokoh besar di Indonesiapun ia berani mengkritik habis-habisan sehingga bintang tamunya bungkam. Beberapa kali ia meraih penghargaan sebagai new anchor terbaik karena wibawanya. Diakhir acara yang dibawakan, Wati selalu berpesan kepada seluruh wanita di Indonesia agar tidak selalu mengandalkan peran laki-laki dalam mengerjakan aktivitas sehari-hari. Kita harus menampik stereotip bahwa wanita hanya berperan dalam 3Ur: Sumur, Kasur, dan Dapur. Kita harus buktikan bahwa kita bisa.
Apalagi akhir-akhir ini Indonesia banyak terjadi kasus-kasus pelecehan yang melibatkan perempuan menjadi korbannya. Ia khawatir jikalau wanita-wanita Indonesia tidak berani mengungkapkan apa yang dialaminya dan malah memendamnya. Wati berupaya mendirikan komunitas Speak Up, Girls!yang bertujuan menampung cerita-cerita  kelam para perempuan korban pelecehan.
Kini ia juga menjadi Ketua Umum diberbagai kegiatan sosial tentang pemberdayaan perempuan. Mendiang ayahnya berpesan agar Wati menjadi wanita yang berani dalam menyampaikan aspirasi. Untuk soal diterima atau tidaknya itu urusan belakangan. Berkat wasiat dan dorongan Ibunya dan teman-temannya ia bertekan untuk menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan.
Doakan Wati agar mimpinya tercapai.
Share:

Contact Us

Silahkan isi form di bawah ini untuk menghubungi kami. Jika tidak ada halangan dan kesibukan lainnya, kami akan langsung merespon dengan cepat pesan yang Anda kirimkan.




Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.