Puisi ini diikut sertakan dalam produk LPM Manunggal Undip
Rindu
Oleh: Isna Farhatina
Aku serupa malam. Seiring redup berubah temaram
Sunyi. Sendiri. Berteman sepi
Maaf, Tuan. Aku masih menjadikanmu inti dari segala tulisan
Pun setelah kita berjauhan
Sebab aku sangat tergila-gila pada aksara
Hanya dengan ini aku bisa melampiaskannya
Ada sesuatu yang berdesir didadaku. Mungkin tentang kita yang lama tak bersua
Kamu berhasil menanam rindu, Tuan. Mencipta jarak juga memupuk jeda
Semuanya tumbuh subur
Tak ada sedikitpun yang kabur
Tentang semua hal-hal bahagia yang pernah kita lakukan juga masih selalu
Ku rapal dalam ingatanku
Kini aku kesakitan menanti pertemuan
Padahal jelas nyatanya kamu tak akan pernah kembali, lagi.
Apakah akan jadi hal sia-sia?
Entah sampai aku melabuhkan lelah tiada menentu arah
Hening…
Disini aku menikmati tiap tikaman belati kerinduan
Yang kamu hunuskann dengan tajam. Sangat dalam.
Luka hati mungkin saja bisa sembuh. Namun rasa rinduku selalu meminta kambuh.






0 komentar:
Posting Komentar