Tantangan Nulis Kilat yang diberikan oleh @storialc
Menjadi wanita yang hidup tidak lagi di era Kartini memiliki tantangan tersendiri. Wati merasakan dampak betapa besarnya perjuangan Kartini agar wanita mendapat hak yang sama dalam segala aspek kehidupan kini banyak profesi yang melibatkan wanita didalamnya. Dalam perjalanan peradaban umat manusia, budaya patriarki tetap mendominasi. Tetapi ia tak ambil pusing. Sejak masih belia ia diajarkan orangtuanya untuk mandiri. Bayangkan saja, ketika masih duduk dibangku TK saja ia sudah disuruh membawa kunci rumah. Mana ada anak TK zaman sekarang yang seperti dirinya? Waktu terus bergulir begitu cepat. Tidak terasa seperempat abad sudah Wati menjalani hidupnya, asam garam kehidupan sudah ia rasakan. Hal inilah yang mendorong dirinya menjadi wanita yang pemberani karena tuntutan persaingan global.
Kecintaannya terhadap dunia literasi membawa jalan takdirnya untuk menjadi seorang wartawati disebuah stasiun TV terkenal di Nusantara. Ayahnya menanamkan budaya One Day One Book pada dirinya agar menjadi wanita yang cerdas. Ibunya juga seorang pegiat literasi di kota tempat tinggalnya. Wati mewarisi sifat kedua orangtuanya yang gemar membaca. Ia memilih menjadi seorang wartawati karena selain profesi tersebut mengandung unsur namanya, karena ia menyukai pekerjaan yang berisiko tinggi namun tetap santai.
Selain berprofesi sebagai seorang wartawati, ia juga pandai berbisnis. Keahlian ini diwariskan oleh Kakeknya yang seorang juragan batik. Wati mulai berkiprah dalam dunia bisnis ketika menginjak awal SMA. Segala upaya ia lakukan untuk menambah uang jajannya agar tidak selalu mengandalkan pemberian orangtuanya. Untung saja Ayah dan Ibunya mendukung niat baik putrinya asalkan tidak mengganggu belajarnya. Penanaman moral yang baik dari kedua orangtuanya membawa Wati menjadi seorang wanita yang benar-benar mandiri. Wati paham betul bahwa ada beberapa hal didunia ini bersifat kodrati yang memang hanya dapat dilakukan oleh wanita saja atau laki-laki saja. Pekerjaan sepele seperti memasang gas, membetulkan rantai kendaraan juga berkendaraan sendirian biasa ia lakukan.
Sebagai seorang wartawati ia biasa mengawal aksi demonstrasi yang terjadi. Panas terik dengan keringat bercucuran menjadi temannya sehari-hari. Ia juga tidak takut berhadapan dengan massa yang membabi buta ketika menyampaikan aspirasinya didepan gedung-gedung pemerintahan. Baku hantam yang tak terelakkan dengan aksi pembakaran ban juga ia nikmati begitu saja justru terkadang rekannya yang sebagai kameramen merasa takut jika terkena dampak dari aksi para demnonstran.
Berkat keberaniannya meliput berbagai aksi demonstrasi, kini ia menjadi seorang news anchor di stasiun TV yang sama tempatnya bekerja sewaktu menjadi wartawati. Ketika membawakan program acara yang mendatangkan tokoh-tokoh besar di Indonesiapun ia berani mengkritik habis-habisan sehingga bintang tamunya bungkam. Beberapa kali ia meraih penghargaan sebagai new anchor terbaik karena wibawanya. Diakhir acara yang dibawakan, Wati selalu berpesan kepada seluruh wanita di Indonesia agar tidak selalu mengandalkan peran laki-laki dalam mengerjakan aktivitas sehari-hari. Kita harus menampik stereotip bahwa wanita hanya berperan dalam 3Ur: Sumur, Kasur, dan Dapur. Kita harus buktikan bahwa kita bisa.
Apalagi akhir-akhir ini Indonesia banyak terjadi kasus-kasus pelecehan yang melibatkan perempuan menjadi korbannya. Ia khawatir jikalau wanita-wanita Indonesia tidak berani mengungkapkan apa yang dialaminya dan malah memendamnya. Wati berupaya mendirikan komunitas Speak Up, Girls!yang bertujuan menampung cerita-cerita kelam para perempuan korban pelecehan.
Kini ia juga menjadi Ketua Umum diberbagai kegiatan sosial tentang pemberdayaan perempuan. Mendiang ayahnya berpesan agar Wati menjadi wanita yang berani dalam menyampaikan aspirasi. Untuk soal diterima atau tidaknya itu urusan belakangan. Berkat wasiat dan dorongan Ibunya dan teman-temannya ia bertekan untuk menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan.
Doakan Wati agar mimpinya tercapai.
-Tamat-






0 komentar:
Posting Komentar